Jakarta, bincang.id — Peringkat daya saing Indonesia anjlok 13 peringkat menurut laporan World Competitiveness Ranking (WCR) 2025 yang dirilis oleh IMD World Competitiveness Center (WCC). Dari posisi ke-27 tahun lalu, Indonesia kini berada di peringkat ke-40 dari total 69 negara.
“Namun, saat ini peringkat daya saing Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara anjlok imbas dari perang tarif yang ditujukan ke kawasan ini,” jelas Arturo Bris, Direktur WCC IMD, Kamis (19/6/2025).
Penurunan terjadi pada tiga dari empat indikator utama, yakni efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur, sementara performa ekonomi stagnan. Investasi asing turun dari peringkat 36 ke 42, sementara ekspor layanan komersial berada di posisi 63 dari 69 negara.
Selain itu, kerangka kerja institusional pemerintah merosot dari peringkat 25 ke 51, dan kualitas pendidikan serta kesehatan juga berada di posisi bawah, yakni peringkat 62 dan 63 secara berurutan.
“66,1% eksekutif Indonesia menganggap kurangnya peluang ekonomi menjadi pendorong polarisasi,” sebut laporan tersebut.
Singapura tetap menjadi negara dengan daya saing tertinggi di Asia Tenggara dan dunia (peringkat 2), diikuti Malaysia (23) dan Thailand (30). Indonesia kini menempati posisi keempat di kawasan, di atas Filipina (51).
Universitas Indonesia (UI) sebagai mitra riset merekomendasikan peningkatan tenaga kerja produktif dan integrasi strategi dari hulu ke hilir. IMD juga menyarankan reformasi struktur biaya, kemudahan membuat usaha, hingga peningkatan cadangan devisa per kapita dan kekuatan paspor.
Masukan lainnya termasuk penguatan sistem perpajakan dan kemudahan akses tenaga kerja asing serta layanan keuangan. Semua itu demi memperbaiki posisi Indonesia di pemeringkatan tahun mendatang.






