Sabo Dam Batang Malalo Selamatkan Permukiman dari Banjir

JAKARTA – Keberadaan Sabo Dam di aliran Sungai Batang Malalo terbukti efektif mereduksi dampak banjir bandang yang melanda Nagari Guguak Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Meski mengalami kerusakan infrastruktur, bendungan penahan sedimen ini berhasil melindungi permukiman warga dari material batu dan pasir.

Bencana kali ini disebut lebih besar dibandingkan banjir bandang tahun 2012. Namun, struktur Sabo Dam yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mampu menahan sebagian besar material dari hulu, sehingga banyak rumah warga yang terselamatkan.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa kesiapsiagaan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari strategi penguatan ketahanan air dan pangan di daerah rawan bencana. Kesiapsiagaan infrastruktur dan sumber daya Kementerian PU menjadi bagian penting dalam mendukung penanganan bencana di berbagai daerah.

Sekretaris Nagari Guguak Malalo, Rizal Ramli, mengakui peran vital Sabo Dam bagi keselamatan warga. Menurutnya, keberadaan bangunan tersebut memberikan waktu bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Alhamdulillah, karena ada Sabo Dam ini material banyak tertahan di atas, sehingga banyak rumah yang terselamatkan. Kami bisa memantau keadaan air dan mengimbau warga untuk mengungsi,” kata Rizal dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Jum’at (19/12).

Penanganan Darurat dan Normalisasi

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V, Naryo Widodo, menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan penanganan darurat dan pemulihan pascabencana. Fokus utama saat ini adalah normalisasi Sungai Batang Malalo sepanjang 1,5 kilometer untuk mengembalikan kapasitas alur sungai.

“Sabo Dam memiliki fungsi strategis dalam menahan sedimen dan mengurangi energi banjir bandang. Meski terdampak dan mengalami kerusakan, keberadaannya telah membantu mengurangi risiko yang lebih besar,” jelas Naryo.

Terkait kondisi infrastruktur, Kepala Bidang Sumber Daya Air Kabupaten Tanah Datar, John Kenedy, melaporkan adanya kerusakan teknis yang signifikan. “Kondisi sekarang Sabo Dam mengalami kerusakan dengan ketinggian sedimentasi lebih dari 20 meter dan tanggul rusak sepanjang kurang lebih 350 meter,” ungkapnya.

Selain melindungi permukiman, Sabo Dam juga berfungsi sebagai pendukung sistem irigasi pertanian. Akibat bencana ini, jaringan irigasi di enam daerah seluas 100 hektare dilaporkan terputus. Kementerian PU berkomitmen mempercepat perbaikan agar aktivitas sosial dan ekonomi warga dapat segera pulih secara berkelanjutan.

Artikel ini ditulis oleh:
Jalil