PU Mulai Penanganan Permanen Infrastruktur Pascabencana Aceh

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo (Kanan)

JAKARTA, Bincang.id – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai melaksanakan penanganan permanen terhadap puluhan titik infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang di Provinsi Aceh. Langkah ini diambil setelah kementerian berhasil memfungsikan kembali seluruh ruas jalan nasional yang sempat terputus akibat 16 jembatan putus dan 362 titik longsor.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan prioritas utama pemerintah adalah menjaga akses logistik agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terhambat. Fokus awal dalam 50 hari kerja adalah memastikan tidak ada kabupaten atau kota yang terisolasi.

“Kami membangun jembatan perintis agar akses awal segera terbuka. Yang terpenting, masyarakat kembali terhubung dan bantuan logistik bisa masuk secara efektif,” ujar Menteri Dody dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/1/2026).

Target Penanganan Januari 2026 Kementerian PU menjadwalkan konstruksi permanen dimulai paling lambat pada Januari 2026. Penanganan ini mencakup 7 jembatan utama dan 28 titik longsor di berbagai ruas jalan nasional, seperti jalur Bireuen-Bener Meriah, Kutacane, hingga Nagan Raya.

Salah satu fokus utama adalah Jembatan Krueng Tingkeum di ruas Bireuen-Aceh Utara. Jembatan yang saat ini menggunakan kerangka bailey tersebut akan segera memasuki tahap pemancangan pertama untuk pembangunan jembatan permanen pada 20 Januari 2026.

Selain itu, penanganan permanen juga dilakukan pada Jembatan Pantai Dona di Aceh Tenggara. Berbeda dengan titik lainnya, jembatan ini telah memulai proses pembongkaran struktur lama untuk diganti dengan bangunan baru sesuai arahan Presiden.

Pulihkan Konektivitas dan Ketahanan Selain pembangunan fisik jembatan, Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh juga melakukan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitar lokasi jembatan. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko gerusan air yang dapat merusak fondasi bangunan di masa depan.

Upaya ini diharapkan tidak hanya memulihkan konektivitas antarwilayah yang terdampak, tetapi juga meningkatkan ketahanan infrastruktur jalan nasional di Aceh agar lebih andal dan aman terhadap potensi bencana susulan.

Artikel ini ditulis oleh:
Jalil