Jakarta, Bincang.id – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menekankan pentingnya pengembangan perkebunan rakyat untuk mendorong swasembada kakao nasional, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Menko Zulhas dalam kunjungannya di Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/1), mengatakan pengembangan perkebunan rakyat diperlukan agar komoditas perkebunan tidak hanya dikuasai oleh pelaku usaha skala besar, melainkan dapat dikelola langsung oleh masyarakat.
“Perkebunan rakyat penting karena kalau hanya perkebunan besar, yang untung hanya kelompok besar saja. Padahal komoditas seperti cokelat (kakao), kopi, kelapa, cengkeh, dan lada, itu bisa dikelola rakyat,” ucap Menko Zulhas.
Ia menjelaskan pengembangan perkebunan dilakukan sesuai arahan Presiden, mencakup kakao, kopi, kelapa, karet, teh, vanili, pala, dan akar wangi.
Menurutnya, perkebunan rakyat juga bermanfaat bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga memberikan dampak berganda bagi masyarakat.
“Kalau lahan dibiarkan kosong, tidak ada hasilnya, malah berisiko banjir. Tapi kalau ditanami, misalnya dengan kakao, banjir bisa berkurang dan masyarakat mendapat hasil,” ucap Menko Zulhas.
Sementara itu data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor kakao Indonesia pada tahun 2024 hampir sepenuhnya dikuasai oleh perkebunan yang dikelola oleh masyarakat.
BPS mencatat sekitar 99,59 persen atau 1,36 juta hektare lahan kakao merupakan perkebunan rakyat dari total 1,37 juta hektare lahan kakao.
Perkebunan besar swasta dan oerkebunan besar negara masing-masing hanya mencakup 5,32 ribu hektare (0,39 persen) dan 0,23 ribu hektare (0,02 persen).
Tidak hanya itu produksi biji kakao kering pada tahun 2024 tercatat sekitar 617,11 ribu ton, dengan perkebunan rakyat menghasilkan sekitar 615,72 ribu ton (99,775 persen), sementara perkebunan besar swasta dan perkebunan besar negara masing-masing menghasilkan 1,38 ribu ton (0,223 persen) dan 11,38 ton (0,002 persen).
Pada kesempatan tersebut Menko Zulhas juga memaparkan bahwa kebutuhan kakao domestik sangat besar, namun produksi dalam negeri belum mencukupi.
“Saat ini kebutuhan cokelat (kakao) kita sangat besar, namun produksi dalam negeri belum mencukupi. Maka dari itu perkebunan cokelat rakyat kita galakkan agar Indonesia bisa swasembada cokelat,” papar Menko Zulhas.
Adapun data impor kakao Indonesia pada tahun 2024, menurut BPS, tercatat sekitar 236,14 ribu ton dengan nilai sekitar 1,46 miliar dolar AS.
Berdasarkan kode HS, impor terbesar berupa Kakao Biji (HS 18010010) sebanyak 148,32 ribu ton atau 62,81 persen dari total impor kakao dengan negara utama asal impor kakao Indonesia adalah Malaysia mencakup volume impor 46,79 ribu ton (74,86 persen) dengan nilai sekitar 242,34 juta dolar AS.
Artikel ini ditulis oleh:
Arie Saputra





