Kilang Pertamina Dumai Hadirkan Perubahan Lewat Program Bedelau Minapolitan

Melalui program terintegrasi Bedelau Minapolitan, Kilang Dumai menghadirkan kisah perubahan yang memberi warna baru bagi kehidupan warga sekitar.

Kilang Pertamina Dumai

Jakarta, bincang.id – Kehadiran sebuah perusahaan di tengah masyarakat seharusnya membawa dampak nyata yang berkelanjutan. Prinsip ini pula yang dijalankan oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui unit operasinya di Dumai. Melalui program terintegrasi Bedelau Minapolitan, Kilang Dumai menghadirkan kisah perubahan yang memberi warna baru bagi kehidupan warga sekitar. (22/9)

“Program Bedelau Minapolitan lahir dari sebuah evaluasi terhadap potensi dan kondisi yang ada di masyarakat yang berpadu dengan keinginan masyarakat untuk tumbuh mandiri,” ujar Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani.

Milla menjelaskan, program ini terdiri dari berbagai subprogram yang saling terhubung, mulai dari budidaya ikan air tawar, Green Laundry, Posyandu ibu dan anak, Masyarakat Peduli Pesisir hingga pertanian sorgum.

“Program-program ini dilaksanakan untuk menjawab tantangan dan potensi alam yang ada di sekitar pesisir pantai yang juga menjadi wilayah operasi Kilang Dumai. Dari program-program ini juga lahir lokal hero yang dapat menjadi inspirasi,” tambahnya.

Nelayan Ngokang dan Jalan Baru

Salah satu sosok inspiratif adalah Ramli, warga Kelurahan Tanjung Palas, Dumai Timur. Hampir setengah abad ia akrab dengan laut yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka.

“Saya sudah melaut sejak usia 12 tahun, berangkat pagi hari jam 7, pulangnya bisa sampai sore hari,” kenang Ramli yang kini berusia 61 tahun.

Seperti halnya Risman, warga setempat lainnya, Ramli tidak melaut untuk menangkap ikan, melainkan menjajakan barang kebutuhan sehari-hari kepada awak kapal. Pekerjaan ini dikenal sebagai nelayan ngokang, istilah turun-temurun yang berakar dari sebutan “Kokang Na” oleh orang Jepang di masa lalu.

Namun, profesi ini penuh risiko—mulai dari ombak besar hingga tabrakan dengan kapal-kapal raksasa yang melintas di jalur sibuk Selat Malaka. Upah yang diperoleh pun tidak sebanding dengan bahaya yang dihadapi.

“Kalau rezeki di laut tidak pasti, apalagi kalau cuaca buruk, barang kita banyak yang tidak laku,” ujar Risman.

Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat sebagian besar warga Tanjung Palas tetap bertahan dengan pekerjaan ini. Ramli sendiri hanya sempat menempuh pendidikan hingga kelas 5 SD.

“Zaman dulu semua serba susah, sekolah juga susah jadi saya dan keluarga tidak punya pilihan,” ucapnya.

Titik balik datang pada 2020 ketika Ramli bersama rekannya Nazaruddin membentuk Pokdakan Palas Jaya setelah mendapat arahan dari pekerja Kilang Pertamina. Proposal yang mereka ajukan kemudian melahirkan Program Bedelau Minapolitan sebagai bagian dari TJSL KPI.

“Kami tergerak karena para nelayan tersebut sudah lama hidup dalam kondisi yang berkekurangan, hingga terpaksa menjalani pekerjaan yang berbahaya. Dengan Program Bedelau Minapolitan, kami berharap bisa membantu mereka keluar dari jeratan ekonomi dan menjadi masyarakat yang mandiri,” jelas Area Manager Communications, Relations & CSR Kilang Dumai, Agustiawan.

Bantuan tidak hanya berupa peralatan dan bibit, tetapi juga pelatihan budidaya lele. Kini, Pokdakan Palas Jaya memiliki puluhan kolam dengan hasil panen mencapai ratusan kilogram ikan setiap kali panen.

“Alhamdulillah, karena bantuan dari Kilang Dumai, anak-anak kami bisa melanjutkan pendidikan, bahkan anak salah satu anggota pokdakan ada yang bisa masuk ke perguruan tinggi,” ungkap Ramli.

Rumput Teki Menyulam Asa di Tanjung Palas

Kisah sukses Ramli menginspirasi Risman untuk membentuk Kelompok Barter Jaya bersama 15 warga lain. Pada 2023, mereka mendirikan Betuah Laundry dengan konsep ramah lingkungan.

“Green laundry merupakan kelanjutan dari program budidaya ikan lele di Kelurahan Tanjung Palas, sekaligus memperluas penerima manfaat Program Bedelau Minapolitan. Betuah Laundry jadi pelopor binatu ramah lingkungan, dimana KPI juga fokus pada masalah tersebut,” tutur Agustiawan.

Risman dan kawan-kawan bahkan memproduksi sabun sendiri berbahan dasar rumput teki yang banyak tumbuh liar di sekitar mereka.

“Disini rumput teki mudah didapat karena tumbuh liar, rumput tersebut kami keringkan lalu dicampur dengan bahan-bahan pembuat sabun. Dengan membuat sabun sendiri, otomatis biaya produksi kami semakin rendah,” jelas Risman.

Laundry ini juga dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga ramah lingkungan. Tak hanya menarik pelanggan sekitar, Betuah Laundry bahkan dipercaya Kilang Dumai untuk mencuci seragam pekerjanya.

“Kami sangat terbantu dengan Program Bedelau Minapolitan dan kami optimis bisa mengembangkan usaha laundry ini jadi lebih baik di kemudian hari,” tandas Risman.

Puisi Nelayan dari Tanah Mundam

Program Bedelau Minapolitan juga menyentuh nelayan di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai. Sulaiman, nelayan setempat, mengaku tantangan menangkap ikan semakin berat karena stok ikan di pesisir kian menipis.

“Kami bisa berlayar sejauh tiga kilometer ke tengah laut, untuk mendapatkan ikan,” ungkap pria 44 tahun itu.

Bersama rekan-rekannya, Sulaiman membentuk Koperasi Unit Bersama Mundam Jaya. Awalnya mereka berharap bantuan alat tangkap, namun KPI juga memperkenalkan budidaya ikan kerapu.

“Jadi kami bekerjasama dengan istri di rumah. Kalau kami melaut, mereka yang memberi makan ikan kerapu di kolam. Ketika pulang ke rumah, kami yang lanjut mengontrol ikan,” jelas Sulaiman.

Hasilnya cukup menjanjikan. Setiap panen bisa menghasilkan penjualan hingga Rp27 juta, dengan pendapatan bersih sekitar Rp2 juta per anggota. Mereka bahkan berencana membudidayakan ikan nila ke depan.

Tak hanya itu, koperasi juga aktif menanam mangrove dan memasang alat pemecah ombak sepanjang 86 meter di pesisir Mundam.

“Kami melihat ada perubahan yang signifikan pada masyarakat, khususnya anggota Koperasi Unit Bersama Mundam Jaya. Selain kesejahteraannya meningkat, mereka juga lebih peduli dengan lingkungan, terutama kawasan pesisir. Keberhasilan ini menjadi buah dari program Bedelau Minapolitan,” ungkap Agustiawan.

Bedelau: Berkilau untuk Masa Depan

Atas capaian tersebut, Program TJSL Kilang Dumai berhasil meraih sejumlah penghargaan, termasuk dua Proper Emas dalam ajang PROPER 2024 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, program ini juga memberi dampak positif terhadap lingkungan. Hingga kini, lebih dari 3.000 bibit mangrove telah ditanam, melindungi garis pantai sepanjang 86 meter, sekaligus berkontribusi pada penyerapan karbon hingga 53.075 ton eq per tahun.

“Sesuai namanya, Bedelau yang berarti berkilau dalam bahasa Dumai, Program Bedelau Minapolitan menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara inovasi sosial dan komitmen lingkungan dapat menciptakan dampak berkelanjutan. KPI tidak hanya mengubah wajah pesisir Dumai, tetapi juga memberi harapan baru bagi masa depan masyarakat sekitar yang lebih hijau, inklusif dan sejahtera,” pungkas Agustiawan

Artikel ini ditulis oleh:
Jimmy Julian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *