Jakarta, bincang.id – Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan transisi energi dan ekonomi hijau melalui kolaborasi dengan Asia Zero Emission Community (AZEC).
Pada pertemuan dengan Chairman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Tadashi Maeda dan Ambassador for the Promotion of AZEC Takio Yamada, Minggu (23/2), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa inisiatif AZEC telah menjadi salah satu topik penting dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Ishiba Shigeru pada Januari lalu.
“Kita perlu segera merealisasikan komitmen kedua kepala negara terkait pengembangan dan implementasi proyek unggulan dalam kerangka AZEC, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh,” ujar Airlangga.
Chairman JBIC Tadashi Maeda memaparkan perkembangan kerja sama JBIC di Indonesia, terutama dalam transisi energi dengan PLN melalui pengembangan transmisi Jawa-Sumatra. Ia juga menjelaskan rencana strategis energi baru terbarukan Jepang untuk memenuhi kebutuhan hingga 2040.
“Jepang mengharapkan dukungan Indonesia untuk implementasi rencana strategis tersebut dan lebih luas untuk pemenuhan kebutuhan energi baru terbarukan bagi kedua negara,” ujar Maeda.
Ambassador Yamada turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Indonesia dalam AZEC untuk bersama-sama mencapai net-zero emission. Ia menekankan bahwa pertemuan Ministerial Meeting selanjutnya akan menjadi ajang untuk mempercepat realisasi proyek-proyek di bawah inisiatif AZEC.
Dukungan dan Penawaran Proyek Indonesia
Menko Airlangga menyambut baik inisiatif ini dan mendorong agar proyek-proyek yang sudah berjalan dapat segera memasuki tahap produksi. Selain PLTP Muara Laboh, Airlangga menawarkan kerja sama dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Riau, proyek transmisi ASEAN Powergrid, serta eksplorasi energi dari kelapa sawit sebagai bahan bakar penerbangan.
Ia juga menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk memfasilitasi proses debottlenecking dalam mengatasi tantangan teknis maupun regulasi. Menurutnya, proyek PLTSa Legok Nangka bisa dijadikan percontohan bagi proyek-proyek serupa di masa depan.
Pertemuan ini juga membahas laporan Expert Group Meeting yang mengklasifikasikan proyek-proyek pengembangan AZEC di Indonesia ke dalam tiga kategori:
- Kategori I (Proyek Komersial yang Siap Dilaksanakan)
- PLTP Muara Laboh, Sumatera Barat
- PLTSa Legok Nangka
- Pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF)
- Kategori II (Proyek Potensial yang Sudah Siap Dikomersialkan tetapi Masih dalam Tahap Studi Kelayakan)
- PLTA Kayan
- Pengelolaan lahan gambut
- Jaringan transmisi Jawa-Sumatra
- Kategori III (Masih Berupa Pilot Project dan Inisiatif)
- Teknologi baru untuk tenaga panas bumi
- Produksi amonia hijau
- Pengembangan hidrogen untuk transportasi
- Pengembangan produksi biofuel/bioavtur
Pemerintah menargetkan agar proyek di Kategori II dan III dapat ditingkatkan menjadi Kategori I, sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat dan berkontribusi pada perekonomian nasional.
“Kita akan upayakan agar proyek-proyek di Kategori III dan II bisa ditingkatkan menjadi Kategori I sehingga manfaatnya cepat terlihat,” pungkas Airlangga.
Ulasan Perbincangan di Publik
1. Antusiasme terhadap Transisi Energi
Banyak kalangan menyambut positif langkah pemerintah mempercepat perwujudan ekonomi hijau. Mereka menilai inisiatif ini dapat menjadi landasan kuat bagi Indonesia dalam mengejar target net-zero emission dan memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.
2. Kekhawatiran terkait Pendanaan dan Infrastruktur
Sebagian masyarakat mempertanyakan kesiapan pendanaan dan infrastruktur, mengingat skala proyek transisi energi yang sangat besar. Proses debottlenecking dan dukungan investor dianggap krusial agar proyek-proyek AZEC tidak terhambat oleh persoalan birokrasi dan regulasi.
3. Peluang Penciptaan Lapangan Kerja dan Alih Teknologi
Pihak lain menyoroti potensi lapangan kerja baru yang dapat tercipta dari investasi di sektor energi hijau, serta kesempatan alih teknologi dari Jepang. Kolaborasi ini dipandang mampu meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal dan mendorong tumbuhnya industri rantai pasok energi baru terbarukan di dalam negeri.
4. Harapan Koordinasi Lintas Kementerian/Lembaga
Untuk memperlancar pelaksanaan proyek-proyek AZEC, publik meminta peningkatan koordinasi antara kementerian dan lembaga terkait. Dengan pendekatan terpadu, diharapkan proses implementasi dapat lebih efisien dan mendukung visi besar net-zero emission secara berkesinambungan.
Secara keseluruhan, rencana kerja sama Indonesia dengan AZEC dianggap sebagai momentum penting untuk mengakselerasi transisi energi sekaligus mengukuhkan peran Indonesia dalam ekonomi hijau. Dukungan publik yang luas diharapkan mendorong realisasi proyek-proyek energi bersih yang bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.






