Kekeringan Ancam Industri Sawit, Potensi Kerugian Capai 4,6 Miliar Dolar

Kekeringan Ancam Industri Sawit, Potensi Kerugian Capai 4,6 Miliar Dolar

Reni Subawati, peneliti dari SMART Research Institute

Bali, bincang.id – Ancaman kekeringan akibat perubahan iklim semakin memengaruhi industri kelapa sawit di Indonesia.

Beberapa wilayah yang mengalami defisit air tinggi, seperti Lampung, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan, mencatat penurunan produksi signifikan karena kurangnya pasokan air.

Menurut data dari SMART Research Institute, defisit air dapat menyebabkan penurunan produksi hingga 8-10% per tahun. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerugian hingga 4,6 miliar dolar AS per tahun jika tidak segera ditangani.

“Perubahan iklim sulit diprediksi, dan dampaknya terhadap sektor perkebunan sangat besar. Oleh karena itu, kami mengembangkan solusi berbasis genetik untuk menciptakan bibit sawit yang lebih tahan kekeringan,” ujar Reni Subawati, peneliti dari SMART Research Institute, Jumat (14/2).

SMART Research Institute telah menciptakan metode seleksi tanaman berbasis Drought Factor Index (DFI) dengan memanfaatkan teknologi Chlorophyll Fluorescence. Teknik ini memungkinkan identifikasi tanaman dengan toleransi kekeringan yang lebih tinggi secara efisien.

Setelah lebih dari satu dekade penelitian, tim berhasil menguji 1.400 progeni dari 113 famili bibit sawit. Dari hasil ini, ditemukan 14 kandidat varietas toleran, dengan dua varietas unggulan, yakni SD14 dan SD63.

Uji lapangan di Kalimantan Selatan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dalam kondisi kekeringan ekstrem seperti pada 2014 dan 2015, SD14 meningkatkan produksi 14-22%, sedangkan SD63 meningkatkan hasil hingga 13-27% dibandingkan varietas konvensional.

Meski demikian, varietas ini masih tergolong memiliki toleransi sedang (intermediate tolerant). Artinya, meskipun tetap mengalami penurunan hasil saat kekeringan, penurunannya jauh lebih kecil dibandingkan varietas biasa.

“Kami tidak bisa menjanjikan varietas yang sepenuhnya tahan kekeringan, tetapi varietas ini dapat menekan penurunan produksi secara signifikan,” jelas Reni.

SD14 saat ini telah melalui sidang pelepasan varietas dan mendapat rekomendasi dari Tim Penilai Pelepasan Varietas (TPPV). Proses administrasi final sedang berlangsung, dan diharapkan varietas ini segera mendapat persetujuan resmi.

Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi industri kelapa sawit nasional. Dengan menekan penurunan hasil panen, potensi kehilangan pendapatan akibat kekeringan dapat diminimalkan.

Reni mengungkapkan bahwa penelitian ini menjadi langkah penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim terhadap sektor perkebunan.

“Kami berharap lebih banyak pihak mengadopsi teknologi ini agar dampak kekeringan terhadap industri sawit dapat diminimalkan. Dengan inovasi berbasis sains, kita dapat menghadapi tantangan perubahan iklim dengan lebih baik,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:
Arbie Marwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *