Jakarta, bincang.id – PT Kilang Pertamina International (KPI) melangkah maju dalam upaya menciptakan bahan bakar ramah lingkungan dengan menargetkan produksi bioavtur menggunakan bahan baku minyak jelantah di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Langkah ini menjadi salah satu terobosan dalam diversifikasi energi hijau di Indonesia.
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menyatakan bahwa tes produksi telah dimulai sejak Maret tahun ini. Produksi dijadwalkan akan diintensifkan hingga April, dengan target awal sebesar 9.000 barel per hari (bph) bioavtur.
“April ini berhasil pakai minyak jelantah di Cilacap, karena katalis sudah diganti. Itu kan bisa co-processing 9.000 barel per hari,” ujar Taufik dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (18/3).
Bioavtur yang diproduksi di Kilang Cilacap nantinya akan dipasarkan ke berbagai maskapai penerbangan. Fokus utama adalah maskapai internasional yang melewati rute negara-negara dengan regulasi ketat terkait bahan bakar ramah lingkungan, seperti Singapura dan Malaysia. Negara-negara tersebut telah menerapkan aturan penggunaan bahan bakar pesawat dengan campuran bioavtur minimal 1 persen.
“Paling nggak kan untuk penerbangan internasional, seperti Singapura, Malaysia, kan sudah menerapkan 1 persen. Artinya, pesawat yang sudah landing di sini, mau berangkat lagi ke international flight, sudah bisa ngisi di sini. Tapi kita tunggu hasil plant test-nya bulan April, rencananya,” jelas Taufik.
Pada tahap awal, KPI akan mencampur avtur dengan minyak jelantah dalam persentase 3 persen. Untuk memproduksi 9.000 bph bioavtur, diperlukan sekitar 270 bph minyak jelantah. Pelita Air disebut akan menjadi maskapai pertama yang menggunakan bahan bakar ramah lingkungan ini.
Taufik menjelaskan bahwa KPI telah menjalin kerja sama dengan sejumlah kolektor minyak jelantah untuk memastikan ketersediaan bahan baku. Namun, ia mengakui bahwa harga minyak jelantah yang tinggi dan ekspor yang masih marak menjadi tantangan besar.
“Kita minta bantuan pemerintah, ada kebijakan, ada DMO (domestic market obligation), supaya minyak jelantah nggak lari keluar. Minyak jelantah itu selama ini kan diekspor ke Singapura,” ujar Taufik.
Ulasan Perbincangan Publik
1. Antusiasme dan Tantangan Produksi.
Publik menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah strategis Indonesia dalam memperkuat transisi energi hijau. Namun, muncul pula sejumlah kekhawatiran mengenai ketersediaan bahan baku minyak jelantah di dalam negeri. Pengamat energi menyoroti bahwa potensi bahan baku ini sangat besar, tetapi selama ini sebagian besar diekspor ke negara lain seperti Singapura. Oleh karena itu, dukungan regulasi menjadi elemen kunci keberlanjutan program ini.
2. Dampak Lingkungan dan Sosial
Para aktivis lingkungan memuji produksi bioavtur dari minyak jelantah sebagai cara inovatif untuk mengurangi limbah domestik yang sering mencemari lingkungan. Di sisi lain, masyarakat menilai bahwa penggunaan minyak jelantah untuk energi dapat memberikan dampak sosial positif, seperti membuka lapangan kerja baru dalam rantai pengumpulan dan distribusi bahan baku.
3. Peluang Ekonomi Lokal
Diskusi publik juga menyoroti potensi ekonomi lokal yang dapat tercipta dari inisiatif ini. Dengan pengaturan tata kelola yang baik, industri pengumpulan minyak jelantah diharapkan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Beberapa pelaku usaha bahkan mengusulkan untuk memperkuat kerja sama antara KPI dan kolektor lokal guna memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.






