Kilang Pertamina Jaga Identitas Sungai Musi Lewat Konservasi Ikan Belida

Saat ini, populasi belida hasil konservasi mencapai 370 ekor dengan berbagai kategori, mulai dari indukan hingga generasi pertama. KPI menargetkan pada tahun depan sudah bisa menghasilkan generasi kedua, sebelum secara bertahap pengelolaan dialihkan kepada masyarakat.

Jakarta, bincang.id – Sungai Musi sejak lama dikenal sebagai urat nadi Palembang, Sumatera Selatan. Di atasnya berdiri megah Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota tersebut. Namun, bukan hanya jembatan merah itu yang lekat dengan Palembang, melainkan juga kuliner khasnya: pempek. Kudapan berbahan ikan ini bahkan menjadi simbol rasa yang langsung mengingatkan orang pada kota asalnya.

Sejarah mencatat, pempek sudah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7, dengan bahan utama sagu dan ikan. Jika kini ikan tenggiri kerap digunakan, dulunya ikan belida menjadi bahan baku asli pempek, tekwan, dan kerupuk Palembang. Teksturnya yang kenyal dan gurih membuat ikan air tawar itu begitu digemari. Sayangnya, populasi belida kini kian menipis.

Yudi, anggota Pokdakan Tunas Makmur sekaligus local hero Program Belida Musi Lestari, masih ingat masa ketika belida mudah didapat di Sungai Musi. “Dulu ikan belida banyak di Sungai Musi, menangkapnya pun mudah. Sekarang sudah jarang terlihat,” ujarnya. (15/9)

Penangkapan besar-besaran untuk kebutuhan kuliner membuat populasi belida merosot hingga akhirnya pemerintah menetapkannya sebagai satwa dilindungi sejak 1980. Sejumlah regulasi kemudian memperkuat status tersebut, termasuk Kepmen Kelautan dan Perikanan No. 1 Tahun 2021.

Berangkat dari keprihatinan ini, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Plaju meluncurkan Program Belida Musi Lestari pada 2019. Program ini menjadi bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan. Yudi sendiri mulai terlibat sejak 2022, memanfaatkan keahliannya dalam membudidayakan ikan air tawar untuk menyelamatkan belida.

Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menegaskan alasan perusahaannya terlibat dalam konservasi belida. “Populasi ikan belida semakin lama semakin menurun, ini yang membuat kami tergerak untuk ikut melakukan upaya pelestarian. Namun ini bukan hanya sekadar kepedulian untuk menyelamatkan sebuah spesies langka, tapi juga upaya untuk menyelamatkan identitas Sungai Musi yang merupakan salah satu ikon Indonesia,” kata Milla.

KPI bekerja sama dengan BRIN, Dinas Perikanan, akademisi, serta kelompok pembudidaya ikan di Banyuasin. Melalui metode pemijahan semi-buatan, konservasi berhasil menghasilkan generasi pertama belida. “Optimasi reproduksi ikan belida juga dilakukan dengan pemijahan semi-buatan. Dengan tiga teknik itu, tahun lalu, ikan belida yang dikonservasi KPI menghasilkan 1.050 telur dan menetaskan 64 ekor ikan belida generasi pertama,” jelas Milla.

Siti Rachmi Indahsari, Area Manager Communication, Relation & CSR Kilang Plaju, menambahkan bahwa inovasi juga dilakukan dengan memanfaatkan limbah Non-B3 sebagai rumah ikan. “Untuk memaksimalkan jumlah telur yang menetas, juga dibutuhkan inovasi, yang telah kita lakukan adalah pemijahan semi-buatan dan injeksi hormonal,” ujarnya.

Saat ini, populasi belida hasil konservasi mencapai 370 ekor dengan berbagai kategori, mulai dari indukan hingga generasi pertama. KPI menargetkan pada tahun depan sudah bisa menghasilkan generasi kedua, sebelum secara bertahap pengelolaan dialihkan kepada masyarakat.

Bagi Yudi, upaya ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan ikan belida? Kalau kita tidak ikut serta dalam upaya pelestarian ini, generasi mendatang hanya akan mendapatkan cerita tentang ikan belida,” tegasnya.

Lebih jauh, KPI bercita-cita melepasliarkan belida ke Sungai Musi agar populasinya pulih. “Adalah menjadi mimpi kita semua untuk bisa melihat ikan belida bisa kembali berenang di Sungai Musi suatu hari nanti,” tutur Milla.

Program konservasi ini sejalan dengan komitmen KPI pada penerapan prinsip ESG dan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya penghentian hilangnya keanekaragaman hayati.

Artikel ini ditulis oleh:
Jimmy Julian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *