Jakarta, bincang.id — Keterbatasan tak selalu menjadi penghalang untuk mandiri. Prinsip inilah yang dipegang Kilang Pertamina Internasional (KPI) dalam mengembangkan masyarakat di Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Melalui Kilang Cilacap, KPI meluncurkan program pemberdayaan terintegrasi yang mampu mengubah kondisi sosial ekonomi warga sekitar kilang. (6/10)
“Dalam setiap keterbatasan, tentu ada peluang untuk memandirikan masyarakat,” ujar Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani.
Milla menjelaskan, setiap program yang dijalankan KPI disusun dengan memperhatikan potensi lokal, pemetaan permasalahan, dan keberadaan tokoh masyarakat yang dapat berperan sebagai penggerak.
“Hal ini juga yang menjadi landasan KPI dalam melaksanakan program CSR di Kelurahan Kutawaru yang merupakan salah satu daerah yang berada di sekitar kilang Cilacap. Program terintegrasi itu disebut dengan Program Masyarakat Mandiri Kutawaru atau disingkat Mamaku,” tambahnya.
Lurah Kutawaru, Edy Harjanto, menuturkan bahwa selama ini banyak warganya yang memilih bekerja ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita (TKW), sementara kaum pria menjadi anak buah kapal (ABK) dan berlayar berbulan-bulan lamanya.
“Kebanyakan warga Kutawaru hanya sekolah sampai SMA, bahkan ada yang SMP. Ini yang membuat warga Kutawaru tak punya banyak pilihan pekerjaan untuk menyambung hidup,” ungkap Edy.
Dari Gelombang Laut ke Dapur Harapan
Kondisi sosial dan ekonomi warga Kutawaru yang penuh tantangan menjadi perhatian Kilang Pertamina Unit Cilacap. Kelurahan ini masuk dalam kawasan ring 1 kilang. Menurut Cecep Supriyatna, Area Manager Communication, Relations, and CSR Kilang Cilacap, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan social mapping sejak tahun 2018.
“Kami mulai melakukan social mapping di Kutawaru dan menemukan adanya sejumlah permasalahan di sana, di antaranya banyak mantan pekerja migran dan anak buah kapal yang hidup dalam kondisi kekurangan,” jelas Cecep.
Kondisi geografis Kutawaru yang terpisah oleh Sungai Donan membuat akses menuju wilayah tersebut sulit dijangkau.
“Lokasi Kutawaru seperti tidak menyatu dengan Cilacap, padahal sebenarnya kelurahan itu masih di dalam Pulau Jawa,” ujar Cecep.
Melihat kondisi itu, KPI melalui Kilang Cilacap kemudian menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Kutawaru. Setelah melalui berbagai tahapan perencanaan dan pelatihan, Program Mamaku resmi dimulai pada 2020.
Program ini dipimpin oleh Rato, putra asli Kutawaru yang dipercaya menjadi ketua kelompok sekaligus local hero di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa Mamaku memiliki beberapa subprogram, seperti Kampoeng Kepiting, Bank Sampah Abhipraya, dan Pasar Amarta yang berfokus pada UMKM lokal.
Sedikitnya 40 mantan ABK dan TKW kini terlibat aktif dalam program tersebut. Menurut Rato, seluruh kegiatan bermuara pada satu tujuan: meningkatkan kemandirian ekonomi warga Kutawaru.
“Kampoeng Kepiting menjadi usaha yang terintegrasi, jadi di situ ada budidaya kepitingnya, ada wisatanya, ada kulinernya, termasuk susur sungai, pemancingan dan lain sebagainya,” jelas Rato.
Selain itu, Bank Sampah Abhipraya hadir untuk menjawab persoalan sampah sekaligus menambah pendapatan warga. Dari kegiatan pengolahan sampah organik dan anorganik, masyarakat berhasil menciptakan nilai ekonomi baru.
Kini, berbagai kegiatan dalam Program Mamaku menghasilkan omzet yang signifikan. “Jika digabungkan, dalam sebulan bisa mencapai Rp180 juta. Masyarakat senang, sekarang anak-anak mereka bisa melanjutkan sekolah, karena orang tuanya setiap hari pegang uang,” ungkap Rato.
Dampak Nyata untuk Ekonomi dan Lingkungan
Selain mendongkrak ekonomi, program Mamaku juga membawa perubahan besar pada lingkungan Kutawaru. Dahulu wilayah ini dikenal kotor dan penuh sampah, kini tampil lebih hijau, bersih, dan sehat. Bank Sampah Abhipraya bahkan berhasil mengurangi timbunan sampah hingga 195 ton per tahun atau sekitar 80,93%.
“Keberhasilan ini bukan dari KPI tapi merupakan hasil buah pikiran dari kawan-kawan, para pendamping dan tentunya dari masyarakat Kutawaru sendiri. Program Mamaku membuktikan, keterbatasan bukan penghalang jika ada kemauan untuk berubah, dan KPI siap untuk menjadi mitra bagi masyarakat dalam mewujudkan itu semua,” tutup Cecep.
Artikel ini ditulis oleh:
Jimmy Julian












