Pertamina Mulai Pengoperasian Awal Unit RFCC RDMP Balikpapan, Bertepatan dengan Hari Pahlawan

Pertamina resmi memulai pengoperasian awal unit utama pengolahan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, yang merupakan bagian dari tahapan start up Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan

Balikpapan, bincang.id – Semangat Hari Pahlawan 10 November menjadi momentum bersejarah bagi Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Pada hari ini, Pertamina resmi memulai pengoperasian awal unit utama pengolahan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, yang merupakan bagian dari tahapan start up Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. (10/11)

Unit RFCC menjadi elemen penting dalam modernisasi Kilang Balikpapan karena berperan sebagai “jantung” kilang yang akan memproduksi bahan bakar dengan standar emisi setara Euro V. Keberadaan unit ini juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi serta nilai ekonomi pengolahan kilang.

Proyek RDMP Balikpapan sendiri merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Dengan nilai investasi mencapai USD 7,4 miliar atau sekitar Rp120 triliun, proyek ini menjadi modernisasi kilang terbesar di Indonesia dan termasuk proyek energi paling strategis di kawasan Asia Tenggara.

Langkah modernisasi ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah melalui Asta Cita, khususnya dalam memperkuat hilirisasi energi, meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik, serta memperkokoh kemandirian dan kedaulatan energi nasional.

Sejumlah pencapaian penting telah diraih dalam proyek RDMP Balikpapan, antara lain keberhasilan uji kapasitas unit penyulingan yang meningkatkan kemampuan pengolahan minyak mentah dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari. Selain itu, juga telah dioperasikan fasilitas Single Point Mooring (SPM) 320.000 DWT untuk kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC), dua tangki penyimpanan minyak mentah masing-masing berkapasitas 1 juta barel di Lawe-lawe, serta unit pemurnian LPG berkapasitas produksi 43 ribu ton per tahun.

“Hari ini akan dilakukan pengoperasian awal Unit RFCC Complex. Untuk memohon kelancaran proses tersebut, kami melaksanakan kegiatan doa bersama agar tahapan-tahapan yang akan dilalui bisa berjalan aman dan lancar,” kata Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani.

Kegiatan doa bersama tersebut dihadiri oleh Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), Komisaris Independen PT KPI, jajaran direksi dan komisaris PT KPB, serta tim manajemen dan para pekerja Kilang Balikpapan.

Sebagai ungkapan rasa syukur atas pencapaian ini, Pertamina menyalurkan santunan kepada 11 penerima yang terdiri dari lima tempat ibadah lintas agama, dua perkumpulan penyandang disabilitas, dua lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA), satu lembaga kesejahteraan sosial lanjut usia (LKS-LU), dan satu lembaga veteran.

Milla menegaskan, keberhasilan proyek RDMP tidak terlepas dari dukungan pemerintah. “Pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap penyelesaian proyek RDMP Balikpapan melalui penetapannya sebagai Proyek Strategis Nasional, dalam mendukung swasembada energi nasional, memperkuat hilirisasi industri, serta memastikan Pertamina menjadi tulang punggung transformasi energi Indonesia menuju kemandirian dan keberlanjutan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Milla menjelaskan bahwa proyek RDMP Balikpapan bertujuan meningkatkan kapasitas desain kilang dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari, yang nantinya akan menghasilkan tambahan produksi gasoline, diesel, avtur, dan LPG berstandar Euro V.

“Proyek RDMP juga nantinya akan menghasilkan tambahan kapasitas produksi mencapai 336 ribu ton LPG per tahun, menjadikan Kilang Balikpapan sebagai penggerak utama program transisi energi bersih di Indonesia,” ujar Milla.

Dari sisi ekonomi, proyek RDMP Balikpapan memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian energi nasional. Proyek ini diproyeksikan mampu menghemat impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun dan berkontribusi sekitar Rp514 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Selain itu, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) proyek ini mencapai lebih dari 35 persen, dan menyerap lebih dari 24 ribu tenaga kerja pada masa puncak konstruksi.

“Selain memperkuat struktur ekonomi nasional, proyek ini membawa dampak sosial positif melalui pembangunan infrastruktur lokal, pemberdayaan masyarakat, serta program CSR di bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan,” tutup Milla.

Artikel ini ditulis oleh:
Jimmy Julian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *