Energi  

Targetkan Zero Emission 2060, Ini Strategi Pertamina Patra Niaga

Pengolahan SAF dari used cooking oil (UCO) masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, khususnya terkait dengan variasi kualitas bahan baku.

Jakarta, bincang.id — PT Pertamina Patra Niaga berkomitmen mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bagian dari langkah strategis menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Melalui partisipasi aktif dalam ajang Indonesia Aviation Summit (IAS) 2025, perusahaan mempertegas perannya dalam transformasi energi yang berkelanjutan di sektor aviasi. (6/8)

Dirut Pertamina Patra Niaga, Harsono, mengungkapkan bahwa pengolahan SAF dari used cooking oil (UCO) masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, khususnya terkait dengan variasi kualitas bahan baku.

“Namun, tantangannya tidak sederhana. Kualitas dan spesifikasi UCO yang masuk ke kilang sangat bervariasi, berbeda dengan pengalaman kami dalam mengolah minyak mentah konvensional,” kata Harsono.

Di sisi hilir, perusahaan juga telah mengambil langkah untuk memastikan kesiapan infrastruktur penyaluran SAF. Sejumlah bandara utama seperti Halim Perdanakusuma, Soekarno-Hatta, dan Ngurah Rai disebut telah siap mendukung distribusi SAF kepada maskapai penerbangan.

Meski begitu, Harsono menekankan perlunya dukungan kebijakan dari pemerintah guna menjaga kelangsungan rantai pasok dan efisiensi biaya produksi. Ia menyebut, regulasi yang konsisten, insentif ekonomi, serta pengaturan harga bahan baku sangat dibutuhkan untuk memberi kepastian kepada pelaku industri dalam membangun kilang SAF baru.

“Kunci keberhasilan adopsi SAF tidak hanya terletak pada sisi produksi, tetapi juga pada bagaimana seluruh ekosistem dari penyedia feedstock, kilang, hingga maskapai dapat terhubung dalam satu rantai pasok yang solid dan efisien. Di sinilah peran regulasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting, agar solusi ini dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Harsono.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa SAF memiliki keunggulan sebagai drop-in fuel, karena memiliki spesifikasi yang sama dengan avtur konvensional. Hal ini memungkinkan SAF digunakan dalam infrastruktur yang sudah ada, termasuk di bandara, sistem distribusi bahan bakar, hingga pesawat tanpa perlu modifikasi tambahan.

Keunggulan ini dinilai sangat krusial dalam mempercepat proses dekarbonisasi di sektor penerbangan, tanpa mengganggu operasional yang sudah berjalan.

Harsono juga menuturkan bahwa Pertamina Patra Niaga telah melakukan sejumlah uji coba SAF bersama maskapai domestik maupun internasional, serta menyiapkan infrastruktur distribusi dari kilang hingga ke tangki pesawat. Dengan perolehan sertifikasi ISCC CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation), perusahaan optimistis SAF akan menjadi sumber energi masa depan yang turut membuka peluang pertumbuhan hijau di Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:
Jimmy Julian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *