Jakarta, bincang.id – Kiprah Kilang Pertamina Internasional (KPI) kembali menorehkan prestasi di kancah global. Dalam ajang Asian Downstream Summit (ADS) Awards 2025 yang berlangsung di Sands Expo and Convention Centre, Singapura, KPI berhasil membawa pulang dua penghargaan bergengsi: Leader of the Year dan Sustainable Technology of the Year. (7/11)
“Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman mendapatkan penghargaan Leader of the Year. Ini adalah salah satu bentuk pengakuan internasional atas visi dan kepemimpinan beliau,” kata Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani.
Dalam kategori tersebut, Taufik berhasil mengungguli sejumlah tokoh industri energi dari berbagai negara, termasuk Mayank Vishnoi dari ChemOne Group, Singapura, serta Kapil Sahni dari Nghi Son Refinery and Petrochemicals LLC, Vietnam.
Milla menuturkan bahwa KPI saat ini tengah mengimplementasikan strategi pertumbuhan ganda (dual growth)—mengoptimalkan bisnis eksisting melalui peningkatan kapasitas kilang sekaligus memperluas bisnis rendah karbon dengan menghadirkan produk berbasis bahan baku nabati.
“KPI di bawah kepemimpinan Bapak Taufik Aditiyawarman mencatatkan berbagai pencapaian besar, salah satunya adalah produksi bahan bakar pesawat masa depan PertaminaSAF,” ungkap Milla.
Langkah menuju pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan itu telah dimulai sejak 2020, ketika Kilang Hijau Cilacap memproduksi bioavtur berbahan baku RBDPKO 2,4% (Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil). Kini, di tahun 2025, KPI kembali mencatatkan terobosan melalui produksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF) dengan bahan dasar minyak jelantah 2,5%.
“Inisiatif ini bukan hanya sebuah pencapaian teknis, tetapi juga sebuah manuver strategis yang memperkuat perannya sebagai pemimpin visioner,” tambah Milla.
Taufik dikenal sebagai sosok profesional berpengalaman di sektor energi dan aktif dalam berbagai organisasi profesi. Ia dinilai memenuhi tiga aspek utama dalam penghargaan ini: inovasi disruptif melalui proyek strategis, inovasi kolaboratif yang mampu menginspirasi serta membentuk model organisasi lintas fungsi, dan dampak sosial dengan meningkatkan persepsi nilai industri bagi generasi pemimpin masa depan.
Selain penghargaan individu, KPI juga meraih posisi kedua (runner-up) dalam kategori Sustainable Technology of the Year, menegaskan kiprahnya dalam inovasi energi hijau di kawasan Asia.
“Dalam ADS 2025, KPI dinilai sebagai perusahaan energi terdepan di kawasan Asia dalam hal inovasi PertaminaSAF. Pencapaian itu juga menginspirasi pelaku industri minyak dan gas untuk menciptakan teknologi atau inovasi yang lebih baik. Selain itu, KPI juga dinilai sebagai kontributor utama bagi pengembangan industri energi hijau di masa depan,” ujar Milla.
PertaminaSAF sendiri merupakan inovasi unggulan yang menjadi tonggak penting bagi sektor aviasi nasional. Milla menjelaskan, bahan bakar ini diproduksi di Kilang Cilacap dengan teknologi co-processing menggunakan Katalis Merah Putih hasil karya anak bangsa. Produk tersebut juga telah memenuhi standar internasional ASTMD1655 dan DefStan 91-091.
“Setelah melewati serangkaian ujicoba, PertaminaSAF akhirnya digunakan dalam penerbangan komersial perdana oleh maskapai Pelita Air dengan rute Jakarta-Denpasar pada 20 Agustus 2025 lalu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Milla menekankan bahwa pencapaian di ADS 2025 menjadi bukti nyata kontribusi KPI dalam memperkuat posisi Pertamina dan Indonesia sebagai pemain utama di industri hilir energi regional.
“Dengan visi menjadi perusahaan kilang dan petrokimia kelas dunia, KPI terus berinovasi dan beradaptasi terhadap dinamika pasar global, menjadikannya salah satu pilar utama dalam ekosistem energi Asia,” tutup Milla.
Ajang ADS Awards 2025 diselenggarakan bersamaan dengan Asian Refining Technology Conference (ARTC) dan Ammonia and Carbon Capture Asia (ACCA). Sejak pertama kali diadakan pada 2008, forum ini menjadi salah satu pertemuan terbesar bagi lebih dari 1.000 pemimpin industri, inovator teknologi, serta pembuat kebijakan untuk membahas transformasi sektor hilir di era transisi energi global
Artikel ini ditulis oleh:
Jimmy Julian












