Wamentan Operasi Pasar Pangan Murah Jelang Ramadhan

Masyarakat kini menanti, apakah operasi pasar ini benar-benar efektif dalam menekan lonjakan harga pangan, atau hanya menjadi solusi sementara tanpa dampak jangka panjang yang signifikan.

Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono saat meninjau pelaksanaan OP Pangan Murah di Kantor Pos Jalan Juanda Kota Bogor, Jawa Barat
Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono saat meninjau pelaksanaan OP Pangan Murah di Kantor Pos Jalan Juanda Kota Bogor, Jawa Barat

Bogor, bincang.id – Jelang bulan suci Ramadhan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) dan PT Pos Indonesia menggelar Operasi Pasar (OP) Pangan Murah. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat membeli kebutuhan pokok dengan harga di bawah harga eceran tertinggi (HET) guna mengantisipasi lonjakan harga yang kerap terjadi menjelang hari besar keagamaan.

Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono, menegaskan bahwa Kementan terus memantau jalannya operasi pasar ini di berbagai daerah untuk memastikan masyarakat mendapatkan harga pangan yang lebih terjangkau.

“Kami terus memantau jalannya operasi pasar pangan murah di berbagai daerah di Indonesia agar masyarakat mendapatkan harga kebutuhan pokok dengan harga di bawah HET,” ujar Sudaryono saat meninjau pelaksanaan OP Pangan Murah di Kantor Pos Jalan Juanda Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/2).

Dalam kunjungannya, ia juga meninjau pelaksanaan OP di Kantor Pos Jalan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor. Ia memastikan bahwa kegiatan ini berjalan lancar, meskipun terjadi sedikit antrean akibat tingginya antusiasme masyarakat.

Distribusi Bahan Pokok: Fokus pada 5 Komoditas Utama

Program ini mendistribusikan lima bahan pangan utama, yakni:

  1. Minyak goreng (Minyakita)
  2. Bawang putih
  3. Gula konsumsi
  4. Daging kerbau beku
  5. Beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP)

Pelaksanaan OP Pangan Murah ini dimulai sejak 24 Februari 2025 dan akan berlangsung hingga 29 Maret 2025 atau H-3 Idul Fitri 1446 Hijriah. Pemerintah berharap langkah ini dapat menekan lonjakan harga bahan pokok yang sering terjadi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Untuk memastikan pasokan mencukupi, pemerintah menggandeng sejumlah BUMN pangan, yaitu:

  • Perum BULOG
  • PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI)
  • PT Perkebunan Nusantara (PTPN)
  • PT Berdikari
  • PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI)

Harga jual bahan pangan dalam operasi pasar ini tetap mengacu pada HET yang telah ditetapkan pemerintah dalam Panduan Teknis Pelaksanaan OP.

Arahan Presiden Prabowo dan Peran Pos Indonesia dalam OP Pangan Murah

Menurut Sudaryono, program ini merupakan implementasi dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau menjelang Ramadhan.

Ia juga mengapresiasi peran Pos Indonesia dalam menyediakan lokasi distribusi bahan pangan. Dengan dukungan infrastruktur logistik yang luas, Pos Indonesia menjadi mitra strategis dalam kelancaran distribusi pangan ke seluruh pelosok negeri.

Direktur Utama Pos Indonesia, Faizal R Djoemadi, menjelaskan bahwa pelaksanaan operasi pasar ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Terbatas Kementerian Koordinator Bidang Pangan serta Rapat Koordinasi Ketersediaan Bahan Pangan Pokok yang berlangsung di Kementerian Pertanian pada 19 Februari 2025.

Sebagai bagian dari komitmennya dalam mendukung stabilitas harga pangan, Pos Indonesia menyediakan lokasi OP di seluruh kantor pos yang tersebar di Indonesia.

“Kami akan memanfaatkan infrastruktur dan kapabilitas logistik kami untuk mendukung kelancaran operasi pasar ini, sehingga masyarakat dapat memperoleh bahan pangan dengan harga yang terjangkau menjelang Ramadhan,” ujarnya.

Saat ini, Pos Indonesia memiliki sekitar 4.800 jaringan di seluruh Indonesia, yang didukung ribuan armada dan sumber daya manusia (SDM). Dengan pengalaman dalam mendistribusikan pangan dalam berbagai program pemerintah sebelumnya, Pos Indonesia optimistis dapat membantu menjaga stabilitas harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Puasa-Idul Fitri 2025.

Ulasan Perbincangan Publik

Program ini mendapat respons beragam dari masyarakat. Banyak yang mengapresiasi langkah pemerintah dalam menekan harga pangan, tetapi ada juga beberapa catatan dan kritik yang muncul di ruang publik.

  1. Apresiasi terhadap Upaya Pemerintah
    Banyak masyarakat menyambut baik operasi pasar ini karena memberikan akses terhadap bahan pangan murah. Terutama bagi kelompok ekonomi menengah ke bawah, OP Pangan Murah menjadi solusi untuk mengatasi kenaikan harga pangan yang sering terjadi menjelang bulan puasa.
  2. Antrean Panjang dan Distribusi yang Terbatas
    Di beberapa daerah, masyarakat mengeluhkan panjangnya antrean serta stok yang cepat habis. Beberapa warga juga menyayangkan bahwa OP Pangan Murah hanya tersedia di lokasi tertentu, sehingga tidak semua orang bisa mengaksesnya dengan mudah.
  3. Kekhawatiran terhadap Ketahanan Pasokan
    Ada kekhawatiran bahwa stok bahan pangan dalam operasi pasar ini tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan tinggi di seluruh wilayah. Sejumlah masyarakat meminta agar pemerintah lebih proaktif dalam memastikan stok aman hingga Lebaran tiba.
  4. Dampak terhadap Harga di Pasar Tradisional
    Pedagang pasar tradisional juga memberikan pandangan mereka. Beberapa menganggap OP Pangan Murah bisa membantu menstabilkan harga di pasar, tetapi ada juga yang khawatir program ini justru menekan pendapatan pedagang kecil karena mereka harus bersaing dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

Operasi Pasar Pangan Murah yang digagas pemerintah menjelang Ramadhan merupakan langkah yang patut diapresiasi, terutama dalam upaya menjaga stabilitas harga pangan dan memastikan ketersediaan kebutuhan pokok bagi masyarakat.

Namun, masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti ketersediaan stok yang mencukupi, efektivitas distribusi, serta pemerataan akses bagi masyarakat di berbagai daerah.

Masyarakat kini menanti, apakah operasi pasar ini benar-benar efektif dalam menekan lonjakan harga pangan, atau hanya menjadi solusi sementara tanpa dampak jangka panjang yang signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *