Blog

Napas Lega! Suku Bunga BI Diprediksi Bakal ‘Break’ Dulu, Rupiah Mulai Jinak

Jakarta, Bincang.id – Setelah sempat bikin deg-degan karena naik terus, suku bunga acuan alias BI-Rate diprediksi bakal rehat dulu nih di level 5,5 persen untuk bulan Juni ini. Para ekonom menilai, Bank Indonesia (BI) udah melakukan kerja keras yang cukup agresif dalam waktu singkat, jadi sekarang waktunya buat mantau situasi.

Buat yang belum tahu, bulan lalu BI udah menaikkan suku bunga sebesar 50 bps. Terus, gara-gara dolar AS sempat ngamuk sampai bikin rupiah jeblok ke level Rp18.000-an, BI langsung curi start lewat rapat mingguan tanggal 9 Juni kemarin buat naikin lagi 25 bps. Totalnya, BI-Rate udah lompat 75 bps dalam waktu singkat! Agresif banget, kan?

Rupiah Mulai ‘Ototan’, Tapi Investor Asing Masih Malu-Malu

Berkat aksi gerak cepat BI plus naikin bonus (imbal hasil) buat instrumen SRBI, rupiah pelan-pelan mulai bertenaga dan sempat balik ke kisaran Rp17.700-an per dolar AS pada 12 Juni lalu.

Tapi menurut Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, pasar saham dan obligasi kita sebenarnya masih boncos alias ditinggal kabur investor asing sepanjang 9-12 Juni. Untungnya, pasar kita nggak ambruk karena diselamatkan oleh investor lokal!

“Pemulihan di kedua pasar nampaknya didorong utamanya oleh investor domestik,” kata Riefky.

Di pasar saham, bank-bank BUMN langsung kompak melakukan aksi buyback (beli balik) saham, ditambah investor lokal yang rajin belanja pas IHSG lagi murah-murahnya.

Jangan Senang Dulu, Penguatan Rupiah Masih ‘Instan’

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, juga setuju kalau BI nggak usah buru-buru naikin suku bunga lagi. Apalagi harga minyak dunia lagi turun dan tekanan pasar mulai adem.

Tapi, Josua kasih catatan penting, nih. Penguatan rupiah saat ini masih dinilai “instan” karena modal asing yang masuk masih numpuk di instrumen jangka pendek kayak SRBI. Sementara di pasar saham, investor asing masih hobi jualan.

Biar rupiah kuatnya tahan lama dan nggak gampang goyah kalau ada kabar miring dari Bank Sentral AS, investor asing harus mulai mau melirik lagi obligasi negara (SBN) jangka panjang dan pasar saham kita.

Nah, setelah suku bunga naik total 75 bps kemarin, Josua memprediksi rupiah bakal lebih tenang dan main di kisaran Rp17.400 sampai Rp17.900 per dolar AS untuk jangka pendek.

Inflasi Aman, Saatnya Tarik Investor Kakap

Senada dengan yang lain, Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, melihat kenaikan suku bunga udah nggak perlu lagi karena inflasi dalam negeri masih aman terkendali.

Hanya saja, Myrdal mengingatkan kalau kita nggak bisa cuma ngandelin “duit kaget” di pasar keuangan aja. Pemerintah juga harus kerja keras meyakinkan para bos besar di luar negeri buat benar-benar nanem modal langsung (FDI) di Indonesia, bangun pabrik, atau bikin usaha.

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker