Ekonomi

Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap Penyebabnya: dari Defisit Dagang hingga Tekanan Global

Jakarta, Bincang.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan menjelang penutupan perdagangan akhir pekan. Pada Jumat (3/7/2026), mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) dan sempat mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Pergerakan tersebut memicu perhatian pelaku pasar dan masyarakat, mengingat Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan.

Salah satu sentimen terbesar datang dari dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026.

Angka tersebut menjadi sorotan karena merupakan defisit pertama setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama 72 bulan atau enam tahun berturut-turut. Defisit terutama dipicu oleh membengkaknya impor migas yang mencapai US$3,76 miliar, sementara ekspor mengalami perlambatan akibat melemahnya permintaan global terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan defisit perdagangan Mei 2026 terutama berasal dari sektor migas.

“Penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan juga dari minyak mentah,” kata Ateng dalam konferensi pers BPS, Rabu (1/7)

Selain defisit perdagangan, inflasi juga mulai menunjukkan tren kenaikan. BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen, naik dibandingkan posisi Mei yang sebesar 3,08 persen.

Kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, transportasi, dan sejumlah kebutuhan rumah tangga, sehingga semakin mempersempit ruang gerak BI untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Ateng Hartono menyebut inflasi Juni 2026 tercatat lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

“Terjadi inflasi di Juni 2026 yang lebih tinggi daripada inflasi Mei 2026,” ujar Ateng

Dari sisi eksternal, pasar global tengah menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payroll (NFP), yang menjadi salah satu indikator utama bagi kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Jika data ketenagakerjaan AS kembali menunjukkan ekonomi yang kuat, peluang penurunan suku bunga The Fed diperkirakan semakin kecil. Kondisi tersebut biasanya membuat investor global kembali memburu aset berbasis dolar AS dan menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fenomena inilah yang membuat arus modal asing keluar (capital outflow) dari pasar domestik kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

Senior Deputy Governor Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama bank sentral.

“Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas, baik melalui pasar spot maupun non-deliverable forward, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Destry.

Sebelumnya, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan secara bertahap untuk meredam pelemahan rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali.

Pelemahan rupiah bukan hanya persoalan di pasar keuangan. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor seperti elektronik, bahan baku industri, kedelai untuk tahu dan tempe, hingga biaya logistik dan transportasi.

Karena itu, pelaku pasar kini menunggu apakah rupiah mampu bertahan di bawah level Rp18.000 per dolar AS atau justru kembali mencetak rekor pelemahan baru dalam beberapa hari ke depan.

Report: Bima Eka

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker