Di Tengah Tekanan Rupiah, Menkeu Purbaya dan BI Tetap Optimistis Ekonomi RI Bisa Tumbuh hingga 5,5 Persen

Jakarta, Bincang.id – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) belum mengubah optimisme pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terhadap prospek ekonomi nasional pada 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak pasar global, meski tekanan terhadap rupiah dan arus modal asing masih membayangi pasar keuangan domestik.
Pemerintah dan BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen, ditopang konsumsi domestik, investasi, serta belanja pemerintah yang tetap terjaga.
Optimisme tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, defisit pertama setelah enam tahun mencatat surplus perdagangan secara beruntun. Selain itu, inflasi tahunan Juni 2026 juga meningkat menjadi 3,34 persen atau mendekati batas atas target Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah akan terus menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan.
Menurut Purbaya, APBN tidak hanya berfungsi sebagai alat pembiayaan negara, tetapi juga menjadi penyangga utama ketika ekonomi global menghadapi ketidakpastian.
“Pemerintah akan terus menjaga APBN agar tetap sehat, kredibel, dan mampu menjadi shock absorber bagi perekonomian nasional di tengah dinamika global,” ujar Purbaya dalam berbagai kesempatan terkait arah kebijakan fiskal 2026.
Ia juga menegaskan pemerintah akan terus mendorong investasi, menjaga daya beli masyarakat, dan memperkuat transformasi ekonomi untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional.
Di sisi lain, Bank Indonesia memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen moneter.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bank sentral terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry Warjiyo.
BI juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna meredam volatilitas rupiah yang dipicu ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.
Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara bertahap hingga mencapai 5,75 persen sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.
Di tengah fluktuasi pasar keuangan global, investor juga mulai meningkatkan kepemilikan aset aman atau safe haven seperti emas.
Kondisi tersebut dipicu meningkatnya sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payroll/NFP) yang menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Jika data tenaga kerja AS kembali menunjukkan ekonomi yang kuat, peluang penurunan suku bunga The Fed diperkirakan semakin kecil. Situasi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memperbesar arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia meyakini ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun.
“Yakinlah, ekonomi Indonesia pada 2026 akan lebih baik lagi dan pertumbuhan diperkirakan meningkat pada kisaran 4,7 persen sampai 5,5 persen,” kata Perry Warjiyo saat peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025.
Report: Bima Eka




